PT. KMI Wire and Cable Tbk

PT KMI Wire and Cable Tbk. adalah salah satu perusahaan produsen kabel listrik di Indonesia. Bidang usaha perusahaan terdiri dari pembuatan kabel listrik berbahan baku tembaga dan aluminium, kawat aluminium dan tembaga, beserta seluruh komponen, suku cadang, aksesoris yang terkait dan perlengkapannya, termasuk teknik rekayasa dan instalasi kabel. Perusahaan berdiri sejak 19 Januari 1972 di Jalan Raya Bekasi KM 23,1 Cakung –Jakarta Timur. Untuk lebih lengkapnya mengenai sejarah perusahaan, pembaca dapat melihat Company Website perusahaan.

Dibawah ini saya ingin langsung saja menjabarkan hasil analisa saya dalam mempelajari bisnis dan prospek usaha PT. KMI Wire dan Cable Tbk atau yang kita kenal di bursa efek Indonesia dengan kode KBLI.

photo_2017-05-16_16-45-55
Gambar 1. Tinjauan Pasar Kabel

Gambar 1. diatas diambil dari salah satu bagian Annual Report KBLI tahun 2015 dan 2016. Pada tahun 2015, KBLI melihat optimisme dalam meningkatnya prospek dalam industri kabel listrik dengan usaha pemerintah lewat pelaksana tugas yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam mempercepat program listrik 35.000 MW dan 45.000 KMS jaringan transmisi dalam 5 tahun. Hal yang menarik berikutnya, tertulis pada AR 2016. Perusahaan menggunakan kata “Realisasi” pada program listrik tersebut, dimana berarti perusahaan sudah merasakan benefit dari berjalannya program tersebut pada tahun 2016.


Apakah itu Transmisi? Apa itu Distribusi? (kalau sudah paham, boleh dilewati  saja bagian ini ya)

Sebelum berlanjut ke pembahasan selanjutnya, sebaiknya kita pahami terlebih dulu mengenai sistem kelistrikan kita. Hal ini kita lakukan dulu agar kita dapat mengetahui ruang lingkup pasar yang diincar oleh KBLI. Karena pembahasan tersebut pastilah cukup panjang dan membosankan, ada baiknya kita mempelajarinya melaui media video. Dibawah ada dua link video youtube yang menurut saya dapat kita serap ilmunya dengan mudah. Materi dalam kedua video hampir sama, hanya berbeda dalam tata cara penyampaiannya saja.

Level Pembelajaran : Easy

Level Pembelajaran: Medium

Setelah menyaksikan video diatas, saya berharap pembaca dapat mengerti lebih jelas mengenai sistem kelistrikan kita sehingga tidak tersesat ketika membaca kelanjutan dari pembahasan ini karena akan banyak menggunakan kata transmisi dan distribusi. 😉


Baik, sekarang kita sudah memahami dengan singkat mengenai sistem kelistrikan yang dibangun oleh PLN di Indonesia. Sudah kita pahami bahwa sistem kelistrikan dapat terbagi menjadi 2 bagian, yakni sistem transmisi (Pembangkit listrik-trafo stepup di GITET-SUTET-trafo step down di GITET-SUTT-trafo step down GITT) dan sistem distribusi (GITT-jaringan tegangan menegah-Gardu distribusi-jaringan tegangan rendah-pelanggan). Mari kita berlanjut pada pembahasan mengenai Gambar 1. diatas.

Pada bagian AR 2015, perusahaan menulis bahwa dalam proses pelelangan terutama di sektor distribusi berjalan lancar. Namun, penyerapan berjalan lambat dan baru dirasakan pada akhir tahun 2015. Kemudian, pada AR 2016 dengan hasil yang didapatkan pada tahun itu, perusahaan menyadari terdapat peningkatan penjualan kabel listrik yang disebabkan oleh kelancaran dalam keseluruhan proses pelelangan, permintaan sampai dengan penyerapan anggaran belanja PLN pada sektor distribusi. Disini kita bisa tangkap mengenai ruang lingkup penjualan perusahaan pada sektor distribusi.

Kemudian, berlanjut pada kalimat berikutnya mengenai penjualan di sektor transmisi, sebagian besar penjualan di sektor ini diraih dari proyek-proyek rekonduktoring. Rekonduktoring adalah penggantian konduktor/kabel lama pada tiang tower saluran udara (gambar b) dengan konduktor baru yang memiliki kapasitas daya 2x lebih besar. Proyek rekonduktoring ini masih menjadi prioritas bagi PLN. Hal ini disebabkan pada sektor transmisi baru, PLN masih harus menghadapi munculnya kendala sosial dalam membangun tower SUTET/SUTT baru dan menyelesaikan berbagai peraturan mengenai ketersediaan lahan yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum dapat melakukam mengadakan pengadaan barang. Dari sini kita juga bisa pahami bahwa pada sektor transmisi, perusahaan hanya mendapat pesanan pada proyek rekonduktoring saja. Sedangkan pada proyek transmisi baru masih sangat minim. Bukan hanya akibat dari kondisi permintaan dari PLN yang lemah, namun juga karena perusahaan baru dapat memproduksi kabel tegangan tinggi bawah tanah yang dibutuhkan untuk jaringan transmisi baru pada tahun 2016.

141202061545_iran-boost-electricity-export-to-afghanistan1
Gambar 2. Tower penyangga konduktor SUTET/SUTT

Saya ingin menjelaskan lebih lanjut mengenai rekonduktoring, bila pembaca tertarik, silahkan dilanjutkan bagian ini.

accc.png
Gambar 3. Aluminium Conductor Composite Core (ACCC)

PT. KMI wire and cable Tbk. merupakan satu-satunya produsen kabel nasional yang mampu memproduksi dan berhasil mendapatkan paten dari CTC Cable Corporation untuk memproduksi kabel bare alumunium conductor cable atau kabel konduktor alumunium telanjang dengan nama Aluminium Conductor Composite Core (ACCC). Kelebihan dari kabel ini terdapat pada kemampuannya untuk mengalirkan transmisi daya listrik dua kali lipat lebih tinggi daripada kabel konduktor konvensional seperti ACSR (Aluminium Conductor Steel Reinforced).

acccc
Gambar 4. Kabel ACSR (kiri) dan Kabel ACCC (kanan)

Untuk lebih jelas mengenai detail kelebihan dari produk ACCC daripada kabel konvensional, pembaca dapat mempelajarinya lebih lanjut dari http://www.ilmukabel.com, website yang berisikan informasi yang sangat edukatif mengenai dunia kelistrikan dan juga pembahasan mendalam mengenai kabel ACCC.

Part 1 Part 2 Part 3 Part 4 Part 5

Pada website tersebut, artikel mengenai penjelasan produk ACCC dibagi dalam 5 bagian. Di dalam salah satu bagian artikel tersebut akan dijelaskan bahwa kabel ACCC juga termasuk produk dengan karakteristik HTLS (High Temperature Low Sag) karena kemampuannya untuk tahan kepada suhu lebih tinggi atau disebut juga HCLS (High Capacity Low Sag) karena kemampuannya untuk mengalirkan arus 2x lebih tinggi dibanding produk ACSR. Nama karakter produk (HTLS/HCLS) ini sangat penting bagi ditemukan, karena dengan ini kita dapat menemukan di kategori manakah produk konductor ACCC ini berada.

Setelah di telusuri dalam annual report, produk ACCC atau disebut juga dengan HCLS termasuk di dalam kategori “Lain-lain”. Dibawah ini merupakan chart-chart yang difokuskan pada kategori produk “lain-lain”. Perlu diingat juga bahwa didalam kategori ini terdapat berbagai jenis kabel khusus, sehingga hasilnya juga tidak mencerminkan keseluruhan penjualan hanya dari produk ACCC saja. Untuk lebih jelasnya mengenai porsi penjualan produk yang dapat digunakan dalam jaringan transmsisi ini, penulis ingin menanyakan lebih lanjut  langsung kepada perusahaan ketika diberi kesempatan untuk bertemu nantinya.

sales aaaac

aaac2
Chart 1. Sales, Common size of Sales, Gross Profit, Gross Margin (YTD)

Dari chart diatas (diolah dari laporan keuangan KBLI 2013-2017), terlihat porsi penjualan produk lain-lain hanya berporsi antara 1.9%-7.5% dari total pendapatan KBLI. Bisa kita nilai bahwa penjualan dari kategori produk ini sangat kecil dan tidak berefek besar pada kinerja KBLI. Jadi, untuk sementara dapat kita “tutup mata sebelah” untuk produk ini. Namun, apabila kedepan PLN sudah mulai sadar akan kelebihan dari produk ini dibandingkan dengan produk konduktor alumunium konvensional biasa, marilah kita jangan anggap remeh penjualan dari kategori ini kedepannya.

Saya juga melakukan penelusuran lebih lanjut mengenai produk ini, yaitu menelusuri berapa perkiraan harga dari produk ACCC ini. Perhitungan dilakukan dengan analisa sederhana, bukan dengan melakukan analisa langsung ke pasar karena keterbatasan waktu dan informasi saya dalam mencari penjual produk ini. Sehingga kedepan, saya ingin mencoba mengklarifikasinya bila diberi kesempatan untuk bertemu dengan wakil dari perusahaan.

Lewat website sahabat kita yang berbagi ilmu kelistrikannya lewat website tadi, terdapat halaman mengenai harga kabel ACCC. Produk ACCC terdiri dari beberapa tipe, dengan range harga berkisar dari harga Rp 500.000 s/d Rp 5.000.000. Dengan menelusuri halaman mengenai tipe-tipe produk ACCC KBLI, dapat kita ketahui perusahaan memiliki 14 tipe berbeda yang dinamakan dan diurutkan sesuai dengan spesifikasi kabel. Dengan perhitungan kasar dengan membagi harga tipe tertinggi kabel dengan jumlah tipe tersebut, perkiraan perbedaan harga untuk setiap tipe adalah Rp 357.143.

Kemudian, pada halaman supply record KBLI pada sektor tranmisi, saya melihat bahwa jenis tipe yang paling sering digunakan adalah kabel ACCC LISBON karena banyak proyek yang menggunakan kabel tipe ini. Dari 14 tipe tersebut, tipe LISBON berada pada posisi ke-5. Jika dikali dengan harga pertipe dengan tingkat spesifikasi kabel, harga rata-rata kabel yang disupply untuk rekonduktoring jaringan transmisi PLN adalah sebesar Rp 1.785.714. Untuk kemudahan dalam mengingat harga perkiraan produk ini, kita dapat membulatkannya menjadi Rp 1.800.000/meter.


Berlanjut pada pembahasan mengenai ruang lingkup perusahaan di sektor distribusi dan transmisi diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa pendapatan perusahaan selama ini berasal hanya dari sektor distribusi PLN. Hal tersebut juga di klarifikasi dengan melihat hasil pendapatan KBLI pada keempat segmen produk, yaitu kabel tegangan tinggi, kabel tegangan menengah, kabel tegangan rendah dan produk lain-lain.

salescmsale

gp
Chart 2. Total Sales, Gross Profit

Dari chart Sales YTD, pendapatan pada tahun 2014 sebesar Rp 2,384 triliun, pada tahun 2015 sebesar Rp 2,662 triliun (11.7% YoY) dan tahun 2016 sebesar Rp 2,812 triliun (5.6% YoY). Pada pembagian per kategori produk, dapat kita lihat kalau penjualan di kabel tegangan menengah terlihat meningkat, sedangkan untuk kabel tegangan rendah porsi nya mulai menurun. Kabel tegangan menengah (1 kV- 36 kV) dan kabel tegangan rendah (merupakan kabel yang digunakan dalam sistem kelistrikan di sektor distribusi. Kedua jenis produk ini menunjukan tajinya dari beberapa tahun terakhir yang disebabkan oleh lancarnya proses pelelangan sampai dengan penyerapan anggaran PLN.

Namun, ada satu produk yang menarik perhatian saya, yaitu kabel tegangan tinggi (>36 kV). Rencana perusahaan untuk menginvetasikan modal kepada aset tetap untuk memproduksi kabel tegangan tinggi bawah tanah berbahan baku tembaga  atau high voltage underground cable (HVUGC) 150 kV dimulai sejak tahun 2015. Dan, pada laporan keuangan perusahaan pada kuartal 2 tahun 2016, perusahaan sudah mulai menunjukan hasil penjualan dari produk tersebut. Sehingga pada akhir tahun  2016, total nilai penjualan untuk HVGUC adalah sebesar Rp 68,9 miliar. Nilai yang termasuk sangat kecil dibandingkan dengan total penjualan.

Namun, dengan hasil pendapatan yang sedikit, mengapa produk ini sangatlah menarik bagi kita? Karena prospek pemasukan pendapatan dari PLN dari proyek jaringan transmisi ini sangatlah besar. Dari tabel komposisi pelanggan dibawah, kita lihat porsi penjualan kepada PLN meningkat tajam setiap periodenya. Hal ini menunjukan bahwa PLN sudah meningkatkan ekposurnya dalam melakukan pengadaan langsung kepada produsen kabel listrik.

komp
Chart 3. Komposisi pelanggan

Pertama, mari kita coba telusuri berapa harga perkiraan dari kabel tegangan tinggi yang dijual oleh PT. KMI wire and cable Tbk.

item
Tabel 1. Harga untuk setiap kategori produk per metric ton
spek
Tabel 2. Spesifikasi kabel 150 kV (source: link)
aaa
Tabel 3. Perkiraan harga per 1 roll, 1 meter dan panjang kabel/mt

Dengan membagi harga kabel tegangan tinggi sebesar Rp 207.759.428/metric ton dari Table 1. dengan 1000 kg, lalu mengalikannya dengan berat net weight sebesar 7931, kita mendapatkan harga 1 roll kabel adalah sekitar Rp 1.6 miliar. Kemudian dengan membagi harga 1 roll kabel dengan panjang kabel 800 meter, dapat kita temukan harga HVUGC per meternya adalah sebesar Rp 2.059.675. Agar lebih mudah untuk diingat, harga HVUGC dapat kita bulatkan saja menjadi Rp 2.000.000. Harga ini merupakan perkiraan saya, dapat lebih murah/mahal tergantung spesifikasi, salah satu contohnya adalah diameter konten tembaga dalam kabel tersebut.

“Oke, kita sudah tahu kira-kira harga untuk kabel HVUGC 150 kV, lalu apa lagi sih yang bikin penulis sampai sangat tertarik dari produk baru ini?” tanya pembaca di dalam lubuk hati.

Nah, selanjutnya yang perlu kita cari adalah berapa panjang kebutuhan kabel transmisi yang diperlukan negara kita. Data tersebut dapat kita dapatkan dari rencana program 35.000MW yang dicanangkan pemerintah. Detail dari rencana ini dapat kita temukan dari dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2017-2026. Pembaca dapat mengunduhnya lewat link ini RUPTL 2017-2016 (236 MB, saya menyarankan untuk mencari koneksi internet gratis sebelum meng.klik link ini).

rekap
Tabel 4. Source: RUPTL 2017-2016

Dari tabel diatas yang saya ambil dari bagian halaman di dokumen RUPTL, tercantum rencana panjang pembangunan jaringan transmisi indonesia pada tahun 2017 sampai dengan tahun 2026. Karena KBLI hanya bisa memproduksi kabel tegangan tinggi sampai dengan 150 kV, ada baiknya kita melihat pada transmisi 150 kV dan 70 kV saja. Dan dengan data yang kita dapatkan mengenai harga kabel HVUGC 150kV pada point pembahasan sebelumnya,  sebaiknya kita lebih fokus pada data panjang kabel transmisi 150 kV di table 4.

Dengan kedua data penting ini, harga permeter dan rencana panjang jaringan transmisi 150kV, sekarang kita hampir bisa menjawab seberapa cerah dan besarnya prospek perusahaan kedepan. Sebelum melakukan perhitungan, perlu diingat bahwa kebutuhan pemakaian kabel transmisi dapat menggunakan bare conductor (ACCC) untuk penggunaan transmisi saluran udara dengan perkiraan harga sekitar Rp 1.800.000 dan juga kabel HVUGC berbahan tembaga untuk penggunaan saluran bawah tanah dengan perkiraan harga sebesar Rp 2.000.000. Sehingga, untuk mempermudah perhitungan dan kewajaran penggunaan kedua kabel dalam jaringan transmisi, harga rata-rata kabel listrik untuk jaringan transmisi adalah senilai Rp 1.900.000/meter.

nilai proyek
Tabel 5. Perkiraan Nilai Proyek Jaringan Transmisi

Setelah kita olah kedua data tersebut, nilai proyek jaringan transmisi per-tahunnya dapat kita lihat di tabel 5. Total nilai  dari rencana proyek untuk kabel jaringan transmisi untuk tahun 2017-2026 adalah sebesar Rp 92 triliun!! Dan jika diperhatikan lebih pendek, pada 3 tahun pertama yaitu dari tahun 2017 hingga 2019, total nilai proyek tersebut adalah sebesar Rp 58,86 triliun (63% dari total nilai proyek transmisi). Nilai yang menurut saya sangatlah fantastis!!

Nilai proyek ini di ibaratkan sebuah kue lapis Surabaya raksasa diatas sebuah meja kaca, dengan berbagai koloni-koloni semut dibawah meja dengan antena yang mengibas kesana kemari dengan kencang karena dahsyatnya wangi dari kue lapis raksasa senilai Rp 92 triliun!!

Koloni semut dengan kemampuan anggota terkuatlah yang akan mendapatkan porsi terbesar dari pertarungan di meja kaca tersebut. Dan, saya optimis dengan menobatkan anggota terkuat dari berbagai macam koloni a.k.a produsen kabel listrik nasional adalah PT. KMI Wire and Cables Tbk. Dengan kemampuan untuk memproduksi bare conductor cable untuk jaringan transmisi udara dengan kualitas terbaik di kelasnya (ACCC) dan juga kemampuan perusahaan sebagai first mover dibanding para produsen kabel lokal lain untuk memproduksi HVUGC 150 kV, saya optimis PT. KMI Wire and Cables Tbk. akan mendapatkan peningkatan fantastis pada penjualannya kepada PLN.

Semua hal diatas dapat terjadi apabila didukung oleh kemampuan produsen kabel untuk memproduksi tingginya permintaan dari PLN.

ragam
Gambar 5. Kapasitas Produksi

Dari data mengenai kapasitas produksi yang didapatkan dari annual report 2016, KBLI mempunyai kapasitas untuk memproduksi kabel aluminium sebesar 16.000 ton/tahun dan kabel tembaga sebesar 26.000/tahun, sehingga total kapasitas perusahaan adalah 42.000 ton/tahun. Lalu, bagaimana dengan produsen kabel lainnya? Selain KBLI, ada 4 perusahaan produsen listrik nasional terbuka dalam industri kabel nasional yang menjadi saingan langsung ke perusahaan. Diantaranya adalah PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk. (SCCO), PT Kabelindo Murni Tbk. (KBLM), PT Voksel Electric Tbk. (VOKS) dan PT Jembo Cable Company Tbk. (JECC).

Dibawah merupakan data mengenai kapasitas dan kemampuan produksi kabel yang diambil dari annual report masing-masing perusahaan tersebut.

kap
Tabel 6. Total Kapasitas Produksi

4 perusahaan (KBLI,SCCO,KBLM,VOKS) membagi produknya menjadi kabel tembaga dan aluminium, sedangkan 1 perusahaan membagi produknya dalam kategori tegangan rendah dan menegah. Pembaca pasti bingung mengapa ada 3 collumn pada tabel diatas. Karena pada  annual report SCCO dan KBLM (kedua perusahaan ini saling berelasi) tidak mencantumkan data mengenai kapasitas produksi mereka, sehingga penulis menghitung kapasitas produksinya dari nilai total produksi. Jadi, penulis membuat collumn baru “Total Kapasitas Produksi” untuk menghitung kapasitas produksi dari kelima produsen kabel terbuka ini. Perusahaan dengan nilai kapasitas produksi terbesar adalah KBLI.

Dengan besarnya nilai kue lapis tersebut, KBLI tidak tinggal diam untuk berusaha menangkap peluang dari proyek jaringan transmisi PLN ini.

de
Gambar 6. Laporan Dewan Komisaris (source:AR 2016)

Pada bagian laporan dewan komisaris dari annual report tahun 2016, dewan komisaris membeberkan rencana mengenai pembangunan pabrik kabel aluminium sebesar 15.000 ton. Hal ini juga didukung oleh Tony Wong, Presiden Direktur KMI Wire and Cable, yang menjelaskan lebih lanjut mengenai rencana pembangunan pabrik baru tersebut. Pada bulan Juni tahun ini, perusahaan berencana untuk mendatangkan mesin-mesin baru di ruang pabrik sewaan baru seluas 2.100 dan perusahaan berharap pabrik baru tersebut akan siap beroperasi pada oktober 2017. Sehingga, pada akhir tahun 2017 perusahaan dapat menargetkan total kapasitas produksi kabel tembaga menjadi sebesar 30 ribu ton (15% YoY)  dan kabel aluminium menjadi sebesar 20 ribu ton (25% YoY). Total kapasitas produksi sebesar 50.000 ton di tahun 2017.

Pernyataan dari dewan komisaris dan direktur utama perusahaan juga diklarifikasi dalam dokumen public expose 2017.

kmi
Gambar 7. Kapasitas Produksi 2017

Dari data-data diatas, saya berkeyakinan bahwa prospek PT. KMI Wire and Cables Tbk. akan meningkat tajam dan explosive oleh keagresifan perusahaan dalam menanggapi peluang yang diberikan oleh proyek-proyek PLN, terutama pada sektor transmisi. Isi dari post perdana ini merupakan hasil sementara dari analisa yang dibuat berdasarkan data-data yang diambil dari internet. Kedepan, saya akan berusaha untuk mengupdate dalam post baru karena isi dari post diatas harus saya klarifikasi lagi kepada perusahaan langsung. Dan akan saya coba untuk mendapat informasi dan klarifikasi tersebut dalam acara public expose perusahaan yang akan diadakan selasa depan tanggal 23 Mei 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s